Jumat, 21 September 2012

PERANAN METODE CTL DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH


A.             Latar Belakang Masalah
Pembelajaran IPA di SMP pada umumnya masih didominasi oleh aktifitas guru. Kelas berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dan KBM berpegang pada buku paket saja. Sehingga kegiatan pembelajaran kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan benda-benda konkrit dalam situasi yang nyata.
Pemilihan  metode pembelajaran yang kurang tepat, media pembelajaran kurang menarik dan tingkat keaktifan siswa yang rendah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan adanya sebuah strategi
pembelajaran  yang  lebih  memberdayakan  siswa,  yaitu  suatu     pendekatan
pembelajaran yang mampu meningkatkan minat dan motivasi siswa. Pendekatan
pembelajaran ini salah satunya menekankan kepada bagaimana belajar di sekolah
yang dikontekskan ke dalam situasi dunia nyata, sehingga hasil belajar dapat
diterima dan berguna bagi siswa selama di sekolah atau setelah mereka lulus dari
sekolah tersebut.
Pendekatan  pembelajaran  tersebut  adalah  pendekatan  pembelajaran yang  didasarkan  kepada  pembelajaran  kontekstual.  Penerapan  pembelajaran kontekstual ini daharapkan dapat mendorong  minat, motivasi, dan keaktifan siswa dalam proses KBM, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal

B.  Pengertian Pembelajaran Kontekstual
 Pembelajaran   kontekstual/CTL (Contextual   Teaching   and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa
membuat  hubungan  antara  pengetahuan  yang  dimilikinya  dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada tujuh komponen utama
pembelajaran   kontekstual   yang   efektif,   yaitu   konstruktifisme
(constructivism), bertanya (question), menemukan (inquiry), masyarakat
belajar (learning  community),  pemodelan (modelling),  dan  penilaian sebenarnya (authentic assesment) (Depdiknas ,2002). Dengan konsep ini pembelajaran  diharapkan  dapat  lebih  bermakna  bagi  siswa.  Proses pembelajaran   yang   berlangsung   alamiah   dalam   bentuk   kegiatan praktikum  siswa,  sehingga  siswa  mengalami  sendiri  bukan  tranfer pengetahuan dari guru.
Pembelajaran    kontekstual    berbeda    dengan    pembelajaran konvensional yang selama ini dikenal. Perbedaan tersebut digambarkan oleh Hamalik dalam Rustana (2002 ) seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Perbedaan pola pembelajaran konvensional dengan    pembelajaran kontekstual
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Kontekstual
1.    Menyandarkan pada hafalan

1.  Menyandarkan  pada  memori spasial
2.  Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
2.    Pemilihan berdasarkan
       
kebutuhan individu siswa
3.    Memberikan tumpukan pada satu bidang (disiplin)
3   Cenderung mengintegrasikan
           
beberapa bidang (disiplin)
4.    Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan.
4.   Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimilki siswa.
5.  Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian  / ulangan.

 5.   Menerapkan penilaian
autentik melalui penerapan
praktis dalam pemecahan
masalah
C.  Strategi Pembelajaran Kontekstual
Strategi pembelajaran kontektual yang dikemukakan oleh Center for Occupational Research and Develoment (CORD) (dalam Rustana, 2002 ) yang dikenal dengan REACT, yaitu :
1.       Relating, belajar dikaitkan dengan konteks dunia nyata.
2.       Experiencing,  belajar  ditekankan  pada  penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention)
3.       Applying, belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya.
4.       Coopeerating,  belajar  melalui  konteks  komunikasi  interpersonal, pemakaian bersama, atau  tugas kelompok.
5.     Trasferring,  belajar  melalui  pemanfaatan  pengetahuan  di  dalam situasi atau konteks baru.
Selama  ini  kelas-kelas  dalam  pendidikan  di  sekolah  kurang
produktif  karena  adanya  pandangan  mengenai  pengetahuan  sebagai
seperangkat  fakta  yang  harus  dihafal.  Sehari-hari  kelas  diisi  dengan
ceramah dan guru sebagai sumber utama pengetahuan, sementara siswa
dipaksa untuk menerima dan menghafal fakta-fakta yang diberikan oleh
guru.  Untuk  itu,  diperlukan  sebuah  strategi  belajar  yang  lebih
memberdayakan siswa. Bagi CTL, program pembelajran adalah rencana
guru   mengenai   skenario (tahap-tahap)   pembelajaran   yang   akan dilaksanakannya dalam satu pertemuan atau lebih. Dalam program itulah guru dapat melihat apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum proses KBM berlangsung. Dalam pembelajaran kontekstual dituntut untuk bagaimana menghidupkan kelas dengan mengembangkan pemikiran anak, sehingga proses belajar akan lebih bermakna karena anak bekerja sendiri untuk menemukan  sendiri  dan  mengkonstruksi  sendiri  pengetahuan  dan ketrampilan barunya.

D.  Peran Guru dalam pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran   kontekstual   sangat   memperhatikan   kebutuhan individual siswa. Oleh karena itu Hamalik (dalam Rustana,  2002),    guru harus memperhatikan hal - hal berikut :
a.    Merencanakan    pembelajaran sesuai dengan   kewajaran perkembangan mental siswa.
b. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung. Siswa saling belajar dari sesamanya di dalam kelompok kelompok kecil dan belajar bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar (kelas)
c. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri dengan karakteristik kesadaran berpikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan.
d.  Mempertimbangkan keragaman siswa, seperti latar belakang suku bangsa,  status  sosial,  ekonomi,  bahasa  utama  yang  dipakai  di rumah, dan berbagai kekurangan yang mungkin dimiliki siswa.
e.  Memperhatikan multi intelgensia siswa.
f.  Menggunakan   teknik   teknik   bertanya   yang   meningkatkan pembelajaran  siswa,  perkembangan  pemecahan  masalah,  dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi.
g. Menerapkan   penilaian   autentik   yang   akan   mengevaluasi pengetahuan  dan  berpikir  kompleks  seorang  siswa,  daripada sekedar hafalan informasi faktual.

E.  Sumber-Sumber Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran   CTL   dapat   memanfaatkan   berbagai   sumber
pembelajaran. Setting pembelajaran tidak harus selalu di dalam kelas, dan
media yang digunakan tidak hanya berupa buku pelajaran saja, melainkan
orang-orang  di  sekitar,  hewan,  tanaman,  majalah,  koran  dan  lain
sebagainya.
Media-media  tersebut  dapat  bermanfaat  bagi  siswa  dan  akan
memberi makna tersendiri, dalam arti dapat menambah pengetahuan baru
berdasarkan pengetahuan awal siswa melalui pengalaman belajar mereka
(Constructivism).  Hal  yang  perlu  diperhatikan  adalah  guru  dapat
membawa siswa kedalam situasi belajar yang dapat menghubungkan apa
saja yang diperoleh dikelas/ sekolah dengan apa yang ada di kehidupan
nyata mereka. Dengan demikian siswa akan merasakan dan menyadari
manfaat  belajar  dengan  pergi  ke   sekolah  sebab  mereka  dapat membuktikan    dan  menemukan  sendiri  jawaban  dalam  menghadapi kehidupan di luar sekolah yang penuh dengan masalah.

F. Penerapan Metode CTL dan Hasil Belajar
Pendekatan  kontekstual  ini  menekankan  salah  satunya  kepada bagaimana belajar di sekolah yang dapat diterapkan ke dalam situasi dunia nyata, sehingga siswa dapat menggunakan pengetahuan yang dipelajarinya dalam kehidupan mereka. Pada pembelajaran kontekstual tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta yang hasilnya tidak akan bertahan lama, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Pengetahuan  tumbuh  dan  berkembang  melalui  pengalaman  dalam  bentuk siswa   bekerja,   praktek   mengerjakan   sesuatu,   berlatih   secara   fisik, mendemonstrasikan sendiri, dan lain sebagainya. Dengan begitu siswa belajar mengalami sendiri (Depdiknas , 2002)
Pada konsep IPA Biologi siswa membangun pengetahuan di dalam
benaknya sendiri dari pengalaman yang telah dialaminya, contohnya banyak
siswa yang memiliki hewan peliharaan yang berbeda, otomatis mereka akan
tahu  makanan  apa  saja  yang  biasa  dimakan  oleh  hewan  peliharaannya
tersebut.    Dengan demikian siswa dapat mengkelompokkan hewan-hewan
tersebut  berdasarkan  perbedaan  makanannya,  yaitu  kedalam  kelompok
herbivora, karnivora, atau omnivora. Dalam hal ini siswa memahami konsep
penggolongan  hewan  berdasarkan  jenis  makanannya  dengan  menemukan
sendiri, karena siswa mengalaminya secara langsung. Contoh lain siswa dapat
praktek di laboratrium misalnya untuk konsep organisme autotrof dengan
mengadakan  percobaan  proses  fotosintesis.  Selama  kegiatan  berlangsung
siswa mengamati perubahan warna daun  , membandingkan, dan mencatat hasilnya  kemudian  disajikan  dalam  bentuk  tabel  untuk  dianalisis  serta
mendiskusikannya  dalam  kelompok  masing-masing.  Aktifitas  bertanya ditemukan  ketika  mereka  berdiskusi  kelompok.  Selain  itu  mereka  akan
bekerjasama untuk memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi, dan
ketika  kelompok  mereka  mengahadapi  kesulitan  mereka  akan  menjalin
kerjasama dengan kelompok lain yang akhirnya akan membentuk masyarakat
belajar.  Setelah  proses  pembelajaran  berlangsung  siswa  diminta  untuk
memberikan komentar mengenai kesan dan saran mengenai pembelajaran
yang telah dilakukan pada hari itu untuk dijadikan sebagai refleksi yang dapat
digunakan  oleh  guru  sebagai  umpan  balik  untuk  memperbaiki  proses
pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Kegiatan-kegiatan pembelajaran di
atas telah mencakup tujuh komponen dalam pembelajaran CTL.
Hasil  belajar  dalam  kontekstual  menekankan  pada  proses  yaitu
segala  kegiatan  yang  dilakukan  oleh  siswa  dalam  mencapai  tujuan
pembelajaran. Nilai siswa diperoleh dari penempilan siswa sehari-hari ketika
belajar. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, misalnya proses bekerja,
hasil karya, penampilan, rekaman, dan tes (Depdiknas, 2002). Penilaian proses
belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam
mengikitu proses belajar mengajar. Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal :
turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan
masalah,  bertanya,  melaksanakan  diskusi  kelompok  atau  menerapkan  apa
yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan yang
 sedang dihadapinya. Setelah melakukan pengamatan, siswapun mengerjakan LKS
dan laporan hasil pengamatan secara berkelompok dengan baik. Pada saat berlangsungnya   diskusi,   pada   rekaman   handycam   dapat   dilihat
berlangsungnya diskusi yaitu setelah kelompok penyaji menjelaskan hasil
pengamatan dengan menggunakan kertas manila di hadapan guru dan
teman-temannya,  ada  beberapa  siswa     mengajukan  pertanyaan  dan kelompok penyaji menjawabnya. 

G. Tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran CTL
Kesenangan siswa terhadap pembelajaran dapat diketahui melalui lembar kuesioner yang telah diisi oleh siswa. Apabila dilihat , dinamika belajar metode CTL pada proses pembelajaran telah terwujud dengan indikator perasaan senang siswa terhadap kegiatan belajar  kelompok.  Hal  ini  sesuai  dengan  pendapat  Popham dalam Departemen Pendidikan Nasional (2004) yang menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan studi secara optimal. Seseorang yang  berminat dalam mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil belajar yang optimal.
Minat  atau  rasa  senang  siswa  terhadap  suatu  pembelajaran
merupakan bagian dari hasil belajar dan memiliki peran yang penting.
Peserta  didik  yang  memiliki  minat  belajar  dan  sikap  positif  terhadap
pelajaran akan termotivasi untuk mempelajari mata pelajaran tersebut,
sehingga  dapat  diharapkan  akan  mencapai  hasil  pembelajaran  yang
optimal.
Penerapan  model  pembelajaran  CTL  sangat disenangi oleh sebagian besar siswa. Siswa senang dengan kegiatan belajar kelompok karena lebih memahami pelajaran dengan bertanya dan bekerja sama dengan teman, tugas lebih ringan, lebih mudah mengerjakan LKS dan menjawab pertanyaan.
Demikian halnya dengan Dimyati dan Mulyono(1994) juga menyatakan pembelajaran kelompok CTL dapat memberi kesempatan kepada tiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional dan dapat pula mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong-royong dalam kehidupan
Pembelajaran Biologi yang dilaksanakan di luar sekolah disenangi oleh sebagian besar siswa. Hal ini terjadi karena pembelajaran CTL yang biasa dilaksanakan  selama  ini  hampir  selalu  di  dalam  kelas  saja.  Adanya pembelajaran di luar kelas atau di luar sekolah akan memberikan variasi pembelajaran bagi siswa sehingga siswa tidak merasa bosan dalam belajar. Siswa merasa senang belajar di luar kelas karena dapat mengamat ihewan dan tumbuhan secara langsung di lingkungan alaminya yang merupakan obyek utama belajar Biologi. Apalagi bagi siswa yang pembelajarannya di tempat rekreasi, mereka dapat menambah pengalaman dengankegiatan wisata ilmiah tersebut.
Dengan demikian penerapan pembelajaran metode CTL dapat meninghatkan hasil belajar pada mata pelajaran biologi , karena anak benar-benar merasa paham akan materi yang diajarkan , karena mereka merasakannya  langsung








DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2003.  Pengajaran  dan  Pembelajaran  Kontekstual (Contextual Teaching learning) Biologi SLTP. Banyumas: Dinas Pendidikan.

Alimah, S.  1998. Pemanfaatan Flora di Lingkungan Sekolah sebagai Sumber            Belajar dalam Pengajaran IPA SD. Skripsi. Semarang : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang.

Departemen Pendidikan Nasional.  2004. Pedoman Pengembangan Instrumen
dan Penilaian Ranah Afektif. Jakarta : Depdiknas.

                                      Departemen Pendidikan 2004.  Pedoman  Pengembangan  Instrumen  dan  Penilaian  Ranah Psikomotor. Jakarta : Depdiknas.
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Nur, M., & Wikandari, R.P. Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme   dalam   Pengajaran.   Surabaya:   Universitas   Negeri
Surabaya

Nurhandayani, I.  2005. Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa dengan   Pendekatan CTL pada Konsep Ekosistem Kelas VII SMP Negeri 2 Rembang. Skripsi. Semarang : Universitas Negeri Semarang

Nur,  M. 2003. “Kesesuaian  Bahan  Ajar  CTL  dengan  Kurikulum  berbasis Kompetensi   untuk   Mata   Pelajaran   MIPA   SLTP”.   Makalah Dipresentasikan pada Sosialisasi Konsep dan Hasil Pengembangan Bahan Ajar Kontekstual untuk Siswa SLTP di Jakarta, 24 Juni 2002.
Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) dan
Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang Press

Sukirno.  2003.  “Model Pembelajaran Langsung  (Direct Instruction)”. Makalah
disajikan pada Pelatihan Guru PKGST, PKG Non ST, LKGI Propinsi
Jawa Tengah.
Sumarwan, Sumartini, dan Kusmayani. 2004.  Sains Biologi 1 B untuk SMP Kelas
VII Semester 2. Jakarta : Erlangga.
Sunarko. 2003. “Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) dan Rencana Pembelajaran”. Makalah disajikan pada Seminar dan Lokakarya Guru-guru SMP Bidang Studi Geografi Kota Semarang, 23-24 Oktober.
  Supriyono, H. 2004. “Pembelajaran Kontekstual Mata Pelajaran Matematika SMP
dalam Pelaksanaan Kurikulum 2004”. Makalah disajikan pada Seminar
Regional Matematika di FMIPA UNNES pada Hari Kamis, 16 September 2004.

Sukirno.  2003.  “Model Pembelajaran Langsung  (Direct Instruction)”. Makalah
disajikan pada Pelatihan Guru PKGST, PKG Non ST, LKGI Propinsi
Jawa Tengah.
Sunarko. 2003. “Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) dan Rencana Pembelajaran”. Makalah disajikan pada Seminar dan Lokakarya Guru-guru SMP Bidang Studi Geografi Kota Semarang, 23-24 Oktober.
Supriyono, H. 2004. “Pembelajaran Kontekstual Mata Pelajaran Matematika SMP
dalam Pelaksanaan Kurikulum 2004”. Makalah disajikan pada Seminar
Regional Matematika di FMIPA UNNES pada Hari Kamis, 16 September 2004.

Wahyudi.  2003. Tingkatan Pemahaman Siswa terhadap Materi Pembelajaran
IPA
. http: //www. Balipost. co. id /baipost cetak/2003/8/24.htm1.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar